Site icon Klinik Kecantikan Niuva

Efek Samping Threadlift: Mitos dan Fakta yang Perlu Kamu Tahu

Oke, yuk kita ngobrol santai soal efek samping threadlift—apa aja sih yang beneran perlu dikhawatirin, dan mana yang cuma mitos yang sering banget bikin orang mikir dua kali sebelum nyobain.

Jujur aja, waktu pertama kali aku denger soal threadlift, bayanganku tuh langsung ke jarum, benang, dan muka ketarik kayak habis ditiup angin. Tapi ternyata, setelah ngobrol sama beberapa dokter estetika dan baca pengalaman banyak orang di forum-forum kecantikan, aku sadar… banyak hal yang sebenarnya nggak semenakutkan itu. Malah banyak juga yang justru ketipu sama mitos.

Nah, di sini aku pengen bahas beberapa efek samping threadlift yang sering disebut-sebut, tapi juga kita bahas fakta medisnya. Biar kamu bisa ambil keputusan yang lebih oke, tanpa drama.

Mitos 1: “Threadlift bikin wajah kaku kayak patung”

Ini yang paling sering aku denger. Katanya, begitu di-threadlift, muka jadi nggak bisa senyum natural. Faktanya, kalau dikerjakan oleh tenaga medis yang berpengalaman dan pakai teknik yang tepat, threadlift justru memberi efek lifting halus tanpa mengganggu ekspresi wajah.

Wajah bisa tetap fleksibel. Emosi tetap jalan. Kalau hasilnya kelihatan “beku”, bisa jadi karena overdone, atau malah bukan threadlift yang bikin kayak gitu—mungkin filler atau botox yang nggak balance.

Mitos 2: “Benangnya bisa berpindah tempat atau keluar dari kulit”

Oke, ini serem sih ya kalau bener. Tapi tenang dulu. Benang yang dipakai dalam prosedur threadlift biasanya pakai bahan seperti PDO atau PLLA, yang bisa diserap tubuh secara alami dalam beberapa bulan. Jadi bukan tipe benang jahit biasa yang bisa ngejelajah kemana-mana.

Memang ada risiko kecil benang “menyembul” atau terasa di bawah kulit, tapi itu biasanya karena teknik pemasangannya kurang tepat atau kamu terlalu aktif gerakin otot wajah pasca prosedur.

Baca Juga : Facial untuk Kulit Berminyak: Ini 5 Jenis yang Terbukti Efektif

Mitos 3: “Threadlift menyebabkan infeksi berat”

Yes, ini possible, tapi kejadian infeksi berat itu sangat jarang. Kalau kamu melakukan threadlift di klinik yang bersih dan diawasi dokter profesional, risiko infeksi bisa ditekan banget. Biasanya, efek samping yang muncul justru hal-hal ringan kayak bengkak, kemerahan, atau memar selama beberapa hari pertama.

Aku pernah ngobrol sama temen yang habis threadlift, katanya rasa nyerinya tuh mirip kayak abis cabut gigi—ada rasa aneh beberapa hari, tapi nggak sampai bikin nggak bisa kerja atau ketemu orang.

Mitos 4: “Threadlift itu efeknya permanen”

Hmm… pengen banget sih ya ada perawatan instan dan permanen, tapi sayangnya itu nggak realistis. Threadlift umumnya tahan sekitar 1–2 tahun tergantung jenis benang, gaya hidup, dan kondisi kulit kamu. Jadi bukan selamanya.

Tapi efek regeneratifnya—seperti stimulasi kolagen—itu bisa terus berjalan setelah benangnya larut. Jadi ada bonus efek jangka panjang yang cukup worth it, walau hasil ‘lifting’-nya perlu maintenance.

Tips dari pengalaman pribadi (dan sedikit nyesel kalau nggak tahu dari awal):

  1. Cari dokter berpengalaman. Bukan klinik yang hanya jualan murah tapi nggak jelas track record-nya.
  2. Ikutin pantangan pasca-treatment. Jangan asal tidur miring, atau cuci muka dengan keras.
  3. Jangan ekspektasi langsung glowing seperti abis filter Instagram. Kasih waktu kulit kamu adaptasi.

Intinya, efek samping threadlift itu ada—tapi mayoritas ringan dan bisa diantisipasi. Yang penting kamu ngerti risikonya, milih tenaga medis yang tepat, dan nggak percaya mentah-mentah sama mitos-mitos horor di luar sana.

Kalau kamu punya pengalaman soal threadlift juga, atau masih ragu, boleh banget share di kolom komentar ya. Kadang insight dari sesama pengguna lebih jujur daripada brosur klinik, hehe.

Exit mobile version